ADA APA DENGAN SWASEMBADA ???
Revolusi Hijau yang mulai berkembang di Indonesia pada era tahun 1960-an dianggap telah membawa Indonesia mencapai swasembada beras pada tahun 1984. Program ini ditunjang oleh aneka program lain seperti perkreditan rakyat dan rehabilitasi pengairan, namun rasanya perlu dipertanyakan dampak revolusi hijau ini setelah 20 tahun yang akan datang.
Walaupun keswasembadaan beras sudah lama dirumuskan Depertemen perencanaan Nasional dalam Rencana Pembangunan Semesta, namun dalam periode 1961-1964 ternyata target tersebut belum bisa tercapai. Pada periode ini sebenarnya terlihat adanya peningkatan namun belum dapat memenuhi kebutuhan penduduk yang semakin bertambah. Program swasembada bahan makanan diintensifkan dengan pendekatan Bimbingan Massal ( BIMAS ) yang pada mulanya dikembangkan oleh staf pengajar dan mahasiswa fakultas pertanian IPB namun akhirnya dilanjutkan Departemen Pertanian dan Departemen Dalam Negeri dengan dibentuk Badan Pengendalian Bimas yang menyebabkan munculnya berbagai masalah baru. Perluasan Bimas memberi dampak pada para petani kecil yaitu adanya kesenjangan dengan petani kaya. Renggangnya ikatan yang terjadi antara petani kaya dan petani kecil disebabkan karena adanya perubahan pada ciri hubungan antara bagian-bagian dalam struktur sosial. Jenis-jenis pekerjaan di luar usaha tani lebih mudah dijangkau oleh petani kaya sehingga petani kecil dan buruh tani cenderung keluar dari masyarakat dan pindah ke kota. Urbanisasi yang dilakukan oleh petani kecil dapat menimbulkan dampak positif dan negatif. Dampak positif adalah adanya suatu perbaikan prasarana dan dapat memperlancar penyediaan tenaga kerja, sedangkan dampak negatifnya adalah mobilitas penduduk yang bertambah tinggi. Hasil penelitian para ahli seperti M.Lyon dan R.W Franke menunjukan bahwa Bimas menyebabkan terjadinya gejala pelapisan sosial dalam masyarakat. Lapisan teratas masyarakat petani yaitu luas tanah yang meningkat, kredit lebih banyak, dan bertambah mampu mengadakan usaha yang berkaitan dengan ekonomi perkotaan sementara itu lapisan bawah sudah tak dapat bercocok tanam sehinggga cenderung membuat timbulnya urbanisasi. Apabila urbanisasi ini terus terjadi maka nasib buruh tani akan membaik namun sektor pertanian akan terabaikan.
Modernisasi di daerah pada masa orde baru ditandai dengan terjadinya komersialisasi, perubahan pola konsumsi masyarakat yang semakin menyerupai kota, serta revolusi dalam bidang pendidikan, transportasi dan kesehatan. Teknologi di bidang pertanian mengalami kenaikan dari sejak Bimas pada Pelita I sampai tercapainya swasembada, bentuk teknologi seperti penggunaan bibit unggul, alat perontok ( thresker ) dan huller meningkat pesat. Namun, peranan KUD masih kurang dijadikan andalan pada tingkat kelompok petani di pedesaan.
Akibat dari pembangunan sektor pertanian yang selalu dipelopori oleh pemerintahan adalah intenfikasi pertanian yang terlalu menekankan teknologi yang asing bagi para petani untuk meningkatkan produksi. Tindakan ini tidak sepenuhnya benar karena proses alih teknologi secara pesat juga berdampak negatif. Mereka yang bermodal dan para petani kaya lebih mempunyai akses pada teknologi pertanian sehingga para petani kecil semakin dirugikan, apalagi di daerah pedesaan belum ada bentuk organisasi yang benar-benar memperjuangkan kepentingan petani kecil. Hal tersebut menandakan bahwa pemerataan sehubungan dengan berbagai sarana maupun produk belum tercapai bahkan menurut sensus tahun 1983 keadaan ini bertambah timpang serta proses polarisasi terus meningkat. Dengan bertambahnya lapisan sosial maka muncullah lapisan menengah yang berkiblat pada kota dan ekonomi uang yang diperkuat kedudukan ekonomi serta sosial. Apabila ini yang dimaksud tujuan pembangunan maka pembangunan di Indonesia dapat dikatakan berhasil namun bila pemerataannya tanpa reforma agraria maka berlaku sebaliknya. Pemecahan yang paling rasional dilakukan adalah menggalakkan sektor jasa, industri kecil dan kerajinan di daerah pedesaan sementara itu perkembangan dikota hanya diperlakukan sebagai penunjang bukan faktor utama yang dijadikan kiblat.
